Latest Entries »

Halo Guys! Mengingat banyaknya permintaan dari temen-temen mengenai bagaimana mengajukan beasiswa BUMN, di posting kali ini akan aku bagikan secara gratis alias FREE FOR YOU formulir aplikasinya. Daripada aku harus ngirim satu2 ke email kalian. Hehe… Tentang bagaimana ceritanya aku bisa mendapatkan beasiswa tersebut, kalian bisa baca di postinganku yang judulnya: Mengejar Beasiswa! part 1Mengejar Beasiswa! part 2 dan Mengejar Beasiswa! part 3.

Biasanya beasiswa ini dibuka pas semester genap. So, prepare semuanya mulai dari sekarang yaa :) Kalo masih ada yang mau ditanyakan, silakan hubungi penulis lewat komen di bawah, FB, twitter, telepon ato mau ketemu langsung juga boleh. Asal ngga lupa bawa coklat tobleronne 1 lusin :P

Sampai disini posting kali ini, karena habis ini aku mau ngumpulin tugas SPM bu Andri. Tetap SEMANGAT buat kalian semua, jaga kesahatan, jaga pola makan, jangan lupa cuci kaki tangan dan gosok gigi. :P

You can download the form here.

 

Haiii semua!!!! Long time no see.. Udah lama nggak nulis nih. Kangen juga rasanya. Pengennya nulis ini itu, tapi sayang sering nggak sempet. Padahal ngga ada yang baca tulisanku si, hahahaha.. Sedih rasanya, but it’s OK. Paling nggak ada satu orang yang selalu setia membaca dan menanti tulisanku. Guess who??? Adaa deeh :P

Okey, langsung saja ke topik posting kali ini. Karena pada saat aku nulis posting ini, aku nebeng pake komputer UPK FEB. Sementara jam sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore dan si Nuzul (yang ternyata sekarang jadi UPK crew baru) udah mule mau nutup lapak dagangannya. Lho?? Jaka Sembung! Maksudku mau nutup UPK..

Mengingat, menimbang dan mempertimbangkan View full article »

Cantik!

Merupakan momen yang agak langka, ketika seluruh anggota dalam keluargaku bisa berkumpul di rumah. Bapak, Ibu, Kakak, Aku dan Adik. Entah, walau belum satu pun dari aku dan saudaraku yang menikah (masing-masing dari kami masih sekolah!) tetapi kami jarang bisa berkumpul genap berlima. Alhasil, momen yang langka ini kami gunakan untuk foto keluarga. Mengabadikan keharmonisan –glek!- keluarga di sebuah studio foto. Siapa yang awalnya punya ide ini, aku pun tak tahu. Aku hanya menurut saja. View full article »

Opportunity Cost

Jika kamu seorang mahasiswa jurusan ekonomi, maka kata “opportunity cost” sudah tak asing lagi di telingammu. Wikipedia mengatakan Opportunity cost is the cost of any activity measured in terms of the best alternative forgone. It is the sacrifice related to the second best choice available to someone who has picked among several mutually exclusive choices. It has been described as expressing the basic relationship between scarcity and choice.”

Bingung? View full article »

Take your opportunity!

Ini sebuah kisah yang kualami beberapa minggu lalu. Suatu hari, ketika aku sedang online di facebook, aku menemukan poster lomba penulisan penulisan proposal PKM yang diadakan oleh BEM Psikologi. Tiba-tiba aku teringat akan proposal bisnis plan yang dulu pernah aku buat. Aku lihat deadline-nya. Ah, masih satu minggu lagi. View full article »

Suatu hari di kelas Pengantar Hukum Bisnis. Saat itu, aku yang mulai terkantuk-kantuk terpaksa mendengarkan ceramah dari dosenku. Kali ini temanya tentang kemudahan izin pendirian usaha yang bisa meningkatkan pendapatan daerah. Beliau kemudian mulai memberikan contoh kasus.

“Ada yang dari Purbalingga? Tahu daerah Purbalingga? Kalau mendengar kata ‘Purbalingga’ apa yang terlintas di benak kalian?” pancing beliau.

Namun semua diam membisu tak ada yang menjawab. Mungkin ini efek dongeng yang dari tadi beliau ceritakan pada mahasiswanya sehingga mereka semua berhasil tertidur. Hehehe.. Tak pantang menyerah, Bu Dosen kemudian melanjutkan dongengnya. View full article »

22 Mei 2011. Pukul 7.30 WIB aku sudah berada di gedung Prof. Sudharto bersama Rani, salah seorang habatku. Kami akan mengikuti sebuah acara yang diselenggarakan oleh kumpulan mahasiswa UNDIP angkatan 2007. Mereka ingin memberikan hadiah untuk adik-adiknya sebelum mereka lulus. Future Leader Summit. Ya, itu nama acaranya. Terdengar sangat keren di telingaku. Hehehe.. :D View full article »

Mengejar Beasiswa! part 3

9 April 2011

Gerimis yang rintik-rintik menemani perjalanan pulangku dari Taman Wisata Air Panas Guci. Ya, aku dibonceng adikku, dan kedua teman SMAku baru saja melepas kangen disana. Mumpung lagi pada pulang. Kami harus melewati jalanan yang menurun dan berkelok-kelok. Tapi disitulah seninya. Nggak heran kalo misalnya aku suka teriak-teriak girang ketika melewati jalan yang curam dan berkelok. Hehehee. “Berisik!” kata adikku di depan. Tapi aku tak peduli. :P

Tiba-tiba hpku bergetar. Ada sms masuk. Ternyata dari mbak kosku, mbak Erma. Begini bunyinya: View full article »

Pelajaran Berharga Perwokerto-Tegal

Matahari bersinar terik ketika aku turun dari bus di terminal Purwokerto. Begitu menginjakkan kaki ke terminal baru itu, para calo langsung menyerbuku tanpa babibu. “Kemana neng?” pertanyaan semacam itu keluar dari mulut mereka dengan membabi buta. (halah lebay). Aku melangkahkan kakiku dan menjawab dengan malas, “Tegal, Pak.” Seorang calo menunjukkan sebuah bus jurusan Tegal. Dia hendak merebut tasku, tapi aku menolaknya. Belajar dari pengalaman ibuku yang suatu ketika pernah dibawakan tasnya ke dalam bus, tapi kemudian sang calo meminta sejumlah bayaran. *Huh!kali ini aku tak akan tertipu :P

Aku masuk ke dalam bus. Baru ada seorang wanita yang duduk di bangku sebelah kiri paling depan. Aku putuskan untuk duduk di belakangnya. Tas punggungku kuletakkan di sebelah bangkuku. Huft! Panas sekali hari ini. Aku mengambil sebotol Pocari Sweat dari tas. Tak lama kemudian, penumpang mulai berdatangan. Pengennya duduk sendiri, tapi kupikir itu tak adil. Akhirnya kuputuskan untuk memangku tas punggungku dan aku duduk di sebelah jendela. Beberapa saat sebelum bus berangkat, seorang bapak memutuskan untuk duduk di sebelahku. Tidak terlau buruk, kupikir. Bapak  tersebut terlihat seperti lelaki kebanyakan dan berusia sekitar 40 tahun-an. Dia mengenakan seragam PNS dan mengapit sebuah tas kerja. Awal yang bisu. Aku memutuskan untuk berkutat dengan “Bocah Muslim di Negeri James Bond”-ku yang kemarin belum selesai kubaca. Tak lama kemudian, si Bapak membuka percakapan.”Turun dimana mba?”"Tegal, Pak.” jawabku. “Bapak?”"Sebelum Bumiayu.”Obrolan kami selanjutnya berkutat pada “dimana aku kuliah”.Menit selanjutnya aku lebih banyak berkutat pada bacaanku. Sesampainya di Ajibarang, salah seorang penumpang di bangku depanku turun. Si Bapak memutuskan untuk maju. “Fiuh… Lega…” pikirku. *hehe. Aku letakkan lagi tas punggungku yang berat di sebelahku. Tak lama kemudian penumpang lain mulai masuk. Seorang Bapak bertubuh agak gendut menyodorkan bokongnya *maaf, tapi ini memang terjadi :P * ke arah tas punggungku yang tergeletak manis di bangku sebelahku. Dengan terpaksa aku kembali memangku tas punggung. Aku tak bisa meletakkannya di bawah kaki maupun di bagian atas karena ukuran tasku yang hampir menyaingi tas para backpacker. Kini ada seorang lelaki Tionghoa bertengger di sebelahku. Dia mengenakan kaos belang-belang berkerah dan celana panjang bahan. Sekilas aku melihat sebuah cincin dengan mata giok berwarna biru di jari tengah tangan kirinya. Tampaknya tak ada rasa bersalah di wajahnya, karena telah menyabotase bangku yang seharusnya menjadi bagian tas punggungku. Huh! *Tapi kenapa harus ada rasa bersalah? Ini kan bus umum, Rina! Hehe View full article »

Suatu ketika, kakakku menelepon. Aku senang kalo dia menelepon. Banyak sekali obrolan bermanfaat yang dihasilkan. Kali ini dia ceramah tentang pentingnya aku keluar dari zona nyamanku. Yaa, selama ini mungkin (bukan mungkin lagi Rina, tapi memang itu yang terjadi -_-) aku terlalu banyak berada di zona nyamanku. Aku terlalu terlena sehingga sulit untuk bangkit bergerak keluar mendobrak bongkahan gunung comfort zone itu. Halah!

Obrolan itu bermula ketika aku curhat tentang rasa ketidakpedeanku menghadapi kehidupan. –preet- Aku terlalu takut.

“Apa yang perlu ditakutkan?” tanya kakakku.

“Itu karena dek Rina belum bergerak untuk mencoba.” dia melanjutkan.

Aku terdiam sebentar. Ya, mungkin yang aku takutkan adalah hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana namun aku membuatnya begitu hiperbola hingga aku berubah menjadi takut mencoba.

“Kalo dek Rina mencoba, terus salah, itu wajar. Karena kita semua dalam proses belajar. View full article »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.